Dokter Gigi:

Informasi Seputar Kesehatan Gigi dan Mulut

Latest Updates

View More Articles

Kamis, 11 Desember 2014

Efek Bruxism Pada Jaringan Periodontal

Efek Bruxism Pada Jaringan Periodontal

Bruxism Pada Jaringan Periodontal

Efek Bruxism Pada Jaringan Periodontal
Pelebaran Ligamen Periodontal Akibat Bruxism

Pada penderita bruxism dapat memberikan efek negatif pada jaringan periodontal, efek yang ditimbulkan berupa:
  1. Pelebaran ligamen periodonsium di puncak alveolar dan pelebaran di seluruh ligamen periodonsium. Fenomena ini menggambarkan kapasitas jaringan periodonsium untuk menyesuaikan peningkatan gaya oklusi. Peningkatan gaya oklusi yang berlebihan ini tidak akan menjadi lesi destruktif bila gaya oklusal dapat diubah.
  2. Pemakaian permukaan oklusal yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan permukaan oklusal yang melebar pada permukaan bukolingual. Keadaan ini dapat menyebabkan daya ungkit yang mendesak gigi sehingga tidak bisa ditahan oleh akar, gaya-gaya yang ditimbulkan pada fungsi normal seperti makan dan menelan diarahkan pada sumbu gigi. Lain halnya gaya yang ditimbulkan oleh bruxism, seringkali mempunyai komponen horizontal, oleh karena itu gaya yang ditimbulkan saat bruxism lebih besar tiga kali dibandingkan gaya normal.
  3. Luka pada jaringan periodonsium terjadi akibat traumatik oklusi yang dsebabkan karena pasien bruxism dengan tonjolan mahkota gigi yang tajam, bila tekanan kesamping diberikan kepadapada ujung tonjolan pada mahkota gigi tersebut, akibatnya tekanan pada tonjolan mahkota gigi pada jaringan periodonsium lebih berat dibandingkan dengan tekanan pada ujung tonjolan pada mahkota gigi. Biasanya disalurkan ke luar jaringan pendukung gigi.
  4. Tekanan bukolingual mempunyai pengaruh besar dibandingkan dengan tekanan mesiodistal, tapi apabila gigi dengan tekanan mesiodistal tidak mempunyai dukungan interproximal dari kontak yang normal dan tekanan yang diberikan pada beberapa gigi hilang atau oklusi yang tidak sesuai, kemungkinan luka pada jaringan periodonsium akibat bruxism meningkat.
  5. Maloklusi lebih banyak terjadi pada penderita bruxism disebabkan karena tekanan oklusal yang lebih berat pada satu sisi dibandikan sisi lain.
Efek Bruxism Pada Jaringan Periodontal

Senin, 17 November 2014

Apa Itu Bruxism?

Apa Itu Bruxism?

Penjelasan tentang Bruxism

 

Bruxism

Apa Itu Bruxism? - Istilah bruxism berasal dari kata Greek (brychein), yang berarti to gnash the teeth atau mengerotkan gigi-gigi, fenomena bruxism yang tercatat yaitu kira-kira pada 600-200 BC ( Ahlberg, 2008). Definisi bruxism menurut The Academy of Prosthodontics, 2005 yaitu parafunsional grinding dari gigi-gigi, suatu kebiasaan yang tanpa disadari dan berulang atau tidak beraturan (spasmodik), non fungsional grinding atau clenching, selain dari gerakan pengunyahan mandibula yang akan mengarah ke trauma oklusal, situasi ini disebut pula sebagai neurosis oklusal. Sedangkan definisi bruxsim menurut American Academy of Orofacial Pain, 2008 bruxism adalah aktivitas parafungsional diurnal atau nokturnal yang mencakup clenching, bracing, gnashing and grinding pada gigi.

Bruxism adalah istilah yang digunakan untuk mengindikasikan kontak nonfungsional gigi yang meliputi clenching, grinding, dan tapping dari gigi dapat terjadi selama siang hari atau malam hari dan berlangsung secara sadar dan tidak sadar. terjadi dalam kondisi sadar dengan adanya ketidaknormalan fungsi pada otak (Singh, 2007 ; Rosenthal, 2007; Herrera dkk., 2006). Menurut Rao (2008) bruxism terjadi sekitar 15% pada anak-anak dan orang dewasa.Bruxism dapat menyebabkan beberapa komplikasi dental, oral, maupun fasial. Kondisi ini sering merupakan sumber sakit kepala, kerusakan gigi yang membutuhkan perawatan restoratif, penyebab kegagalan implan, dan bahkan rasa sakit pada leher dan TMJ (Rosenthal, 2007; Herrera dkk., 2006).


Apa Itu Bruxism?



Berbagai teori dikemukakan untuk menjelaskan adanya kontroversi etiologi bruxism yang telah berlangsung bertahun-tahun. Nadler (1957) membagi etiologi bruxism menjadi empat yaitu (1) faktor lokal, suatu gangguan oklusal ringan, usaha yang dilakukan pasien tanpa sadar untuk memperbanyak jumlah gigi yang berkontak atau reaksi atas adanya iritasi lokal, (2) faktor sistemik, gangguan gastrointestinal, defisiensi nutrisi dan alergi atau gangguan endokrin telah dilaporkan menjadi salah satu faktor penyebab, (3) faktor psikologis, tekanan emosi yang tidak dapat di tunjukan oleh pasien seperti rasa takut, marah, dan penolakan, perasaan tersebut disembunyikan dan secara tidak sepenuhnya sadar diekspresikan melalui berbagai cara seperti menggeretakkan gigi, (4) faktor pekerjaan, seperti para pembuat arloji, orang-orang yang suka mengunyah permen karet, tembakau atau benda-benda lain seperti pensil atau tusuk gigi. (Singh, 2007; Ghom and Mhaske, 2009; Rao 2008). 
 
Berdasarkan telaah literatur terdapat dua kelompok faktor penyebab bruxism yaitu periferal (morfologis) dan sentral (physiopatologis dan psikologis). Saat ini, bruxism lebih mengarah ke etiologi sentral daripada periferal ( Lobbezoo, 2001). Hasil riset ahir-ahir ini mengindikasikan adanya faktor genetik berperan sebagai etiologi bruxism ( Hublin dkk, 2003 ). Berbagai studi memperlihatkan pula berbagai faktor resiko yang memperburuk bruxism sperti merokok, kafein dan konsumsi alkohol ( Ohayon dkk, 2001 ).

Dokter gigi diklinik perlu perhatian untuk mengenal kelainan psikis dan psikiatrik, seperti kecemasan atau kecemasan patologis, kondisi hati (mood) dan kelainan personaliti. Pada kondisi tersebut seorang psikolog sangat diperlukan. Menurut Lavigne, dkk. 2008, untuk memahami penyebab bruxism adalah sangat sulit untuk mengisolir peran stres dan kecemasan dari perubahan yang terjadi pada autonomik dan kegiatan motorik. Adanya keberagaman psikososial dan penanda biologis akan saling mempengaruhi, sehingga sulit untuk mendapatkan deskripsi yang jelas, sederhana dan sahih hubungan sebab diantara stres, kecemasan dan bruxism.

Fenomena bruxism yang tercatat yaitu kira-kira pada 600-200 BC. Fenomena bruxism telah mempengaruhi banyak orang di seluruh dunia. Di Amerika Serikat diduga sebanyak 45 juta orang memiliki tanda dan gejala dari bruxism (sewaktu tidur) dan 20% dari penduduk mengalami bruxism sewaktu bangun ( Lavigne dkk, 2008 ). Prevalensi bruxism berkisar antara 14% - 20% pada anak-anak, 5% - 8% pada orang dewasa dan menurun menjadi 3% pada orang usia diatas 60 tahun ( Gloroa dkk, 1981 ). Tidak terdapat perbedaan predileksi jenis kelamin, artinya bruxism dapat dialami oleh baik laki-laki maupun perempuan ( Lavigne dkk, 1994 ).


Bruxism yang terjadi pada saat masa kanak-kanak akan menimbulkan erupsi yang tidak sempurna pada gigi posterior dan juga menyebabkan menurunnya petumbuhan vertikal dari maksila posterior, selain itu berakibat atrisi pada gigi anterior yang akan menyebabkan turunnya dimensi vertical sehingga bermanifestasi pada deep overbite gigi anterior (Bishara,2001).

Bruxism akan mengahasilkan erupsi yang tidak komplit pada gigi posterior sehingga menurunkan petumbuhan vertical dari maksila posterior dan proses pembentukan alveolar mandibula yang menghasilkan kenaikan overbite anterior. Gigi yang terkikis pada penderita bruxism menyebabkan pengurangan jarak antara rahang atas dan rahang bawah, sehingga mengurangi dimensi vertikal (Ghom and Mhaske, 2009). Penurunan dimensi vertikal bermanifestasi pada deep-overbite pada gigi anterior (Bishara, 2001).


Apa Itu Bruxism?

 
Menurut Cawson dkk, 2002 terdapat beberapa tanda klinis yang dapat kita jumpai pada penderita bruxism, yaitu:
a. Biasanya terlihat  pada permukaan kunyah seperti insisal, oklusal, dan proksimal.
b.Biasanya menyebabkan permukaan melengkung sampai rata, mahkotanya memendek dan permukaan enamel oklusal/ insisal menghilang. Menyebabkan tepi enamel menjadi tajam.
c. Pada gigi anterior, ujung insisal tampak melebar. Pada gigi posterior, bagian yang mengalami efek bruxism terutama adalah cusp.
d. Pada gigi rahang atas, yang paling mudah terkena efek bruxism adalah cusp lingual, sementara pada gigi rahang bawah adalah cusp bukal. Jika sudah terkena dentin, warna menjadi kekuning-kuningan serta terbuka.
e. Keausan batas (facet) meluas lebih cepat karena faktor fisiologis.



Menurut Lobbezoo, 2001 bruxism dapat dikategorikan menjadi 3 macam berdasarkan faktor penyebabnya, yaitu:

a. Faktor Periferal ( morfologis )
Faktor periferal pada waktu lalu dipertimbangkan sebagai etiologi utama bruxism. Ramfjorf (1961) menyarankan bahwa bruxism dapat dihilangkan dengan penyesuaian oklusal. Tapi dari berbagai studi menunjukkan bahwa hubungan antara bruxism dan faktor oklusal adalah lemah atau tidak ada ( Manfredini dkk, 2004 ). Sementara itu, Michelotti dkk, 2005, dalam eksperimennya, bahwa suprakontak nyata berhubungan dengan pengurangan kegiatan elektomiografi (EMG) ketika bangun. Hasil double-blind randomized controlled studies di Finland menunjukkan bahwa interferensi oklusal artifisial tampaknya mengganggu keseimbangan oromotor pada mereka dengan kelainan temporomandibular ( Niemi dkk, 2006 ). Artikel tinjauan Luther, 2007 menyatakan tidak ada bukti bahwa interferens oklusal sebagai etiologi bruxism, atau penyesuaian oklusal dapat mencegahnya. 
 
b. Faktor Pathophysiologi
Pathophysiologi dari bruxism sewaktu tidur tampaknya belum dapat dijelaskan sepenuhnya, tetapi mungkin disebabkan mulai dari faktor psikososial seperti stres, kecemasan, respon yang eksesif sampai microarousals. Microarousals didefinisi sebagai periode singkat (3-15 detik) dari aktivitas cortikal sewaktu tidur, yang berhubungan peningkatan aktivitas sistem syaraf sympatetik. Hampir 80% episod bruxism terjadi dalam kelompok, sewaktu tidur dan berhubungan dengan microarousal. Mengerotkan gigi didahului urutan kejadian psikologis: peningkatan aktivitas sympatetik (pada 4 menit sebelum mengerot dimulai), diikuti aktivasi cortikal (1 menit sebelumnya) dan peningkatan ritme jantung dan tonus otot pembukaan mulut (1 detik sebelumnya) ( Kato dkk 2001 )

Bukti terbaru yang mendukung hipotesis bahwa bruxism dimediasi secara sentral dibawah rangsangan autonom dan otak. Bukti mendukung peran syaraf sentral dan sistem syaraf autonom pada awal aktivitas oromandibular bruxism selama tidur malam ( Lavigne dkk, 2007 ).

c. Faktor Psikologis
Studi oleh Lobbezoo dan Naeije, 2001 menyatakan bahwa pengalaman stres dan faktor psikososial berperan penting pada penyebab bruxism. Menurut literatur berdasarkan laporan sendiri (self-reported) dan observasi klinik adanya keausan gigi adalah satu cara untuk menilai bruxism dalam hubungannya dengan kecemasan dan stres ( Janal dkk, 2007 ). Tetapi, ada keterbatasan dari metoda tersebut, karena keausan gigi digambarkan sebagai indikator yang lemah dari konsep bruxism dan tidak membedakan clenching dan grinding ( Marbach dkk, 1990 ). Besarnya keausan gigi dipengaruhi oleh kepadatan email atau kualitas saliva dan efektivitas lubrikasinya ( Lavigne dkk, 2003 ).


Untuk mendiagnosis bruxism sebagai dokter gigi perlu melihat tanda – tanda klinis dan perubahan pada gigi dan rongga mulut pada beberapa kunjungan. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah keadaan bruxism ini memerlukan medikasi tau tidak. Apabila dicurigai bruxism maka kita dapat mengajukan pertanyaan seputar kesehatan gigi umum , obat-obatan , rutinitas sehari-hari pasien dan kebiasaan tidur.
Untuk mengevaluasi sejauh mana tingkat bruxism dapat dulakukan pemeriksaan sebagai berikut:
a. Pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat nyeri atau tidak pada otot rahang
b. Kelainan gigi yang jelas , seperti patah atau hilang gigi atau keselarasan gigi yang buruk
c. Pemeriksaan keadaan gigi dan jaringan pendukung gigi yang rusak dengan menggunakan sinar x
d. Pada pemeriksaan radiografis pada penderita bruxism dapat ditemui:
  • Terjadi penebalan di lamina dura
  • Biasanya pada bagian mahkota gigi mengalami keausan atau bahkan hilang.
e. Pada pemeriksaan mikroskopis akan dijumpai goresan-goresan parallel dengan satu arah pada permukaan yang datar dan ada batas pada setiap seginya.





DAFTAR PUSTAKA

Ahlberg K. Self-reported bruxism. Academic dissertation. Department of Stomatognathic Physiology and Prosthetic Dentistry . Institute of Dentistry. Faculty of Medicine. University of Helsinki. Finland. 2008.

Cawson, R.A. Odell, E.W. Cawson’s Essential of Oral Pathology and Oral Medicine7th ed. London. Churchill Livingstone.2002

de la Hoz-Aizpurua JL, Díaz-Alonso E, LaTouche-Arbizu R, Mesa-Jimé-nez J. Sleep bruxism. Conceptual review and update. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2011 Mar 1;16 (2):e231-8. 
 
Gloroa AG. Incidence ofdiurnal and nocturnal bruxism. J Prosthet Dent 1981 may;45(5):545-9

Herrera, M., Valencia, I., Grant, M., Metroka, D., Chialastri, A., Kothare, S. V., Bruxism in
Children: Effect on Sleep Architecture and Daytime Cognitive Performance and Behavior, SLEEP, Vol. 29(9): 1143-8.

Hublin C, Kaprio J. Genetic aspect and genetic epidemiology of parasomnia. Sleep Med Rev. 2003;7:413-21

Janal MN, Raphael KG, Klausner JJ, Teaford MF. The role of tooth-grinding in the maintenance of myofacial face pain: a test of alternative models. Pain Med. 2007;8:468-496

Kato T, Rompre P, Montplaisir JY, Sessle BJ, lavigne GJ. Sleep bruxism an oromotor activity secondary to microaurosal. J Dent Res. 2001;80(10):1940

Lavigne GJ, Montplaisir Jy. Restless legs syndrome and sleep bruxism: prevalence and association among Canadians. Sleep. 1994; 17(8): 739-43.

Lavigne GJ, Kato T, Kolta A, Sessle BJ. Neurobiological mechanism involved in sleep bruxism. Crit Rev Oral Biol. Med. 2003;14:30-46.

Lavigne GJ, Huynh N, Kato T, Okura K, Yao D, et al. Genesis of sleep bruxism: otor and autonomic-cardiac interaction. Arch Oral Biol. 2007;52:361-381.

Lavigne GJ, Khoury S, Abe S, Yamaguchi T, Raphael K. Bruxism physiology and pathology: an overview for clinicians. J Oral Rehab. 2008;35:476-494.

Lobbezoo F, Neije M. Bruxism is mainly regulated centrally not peripherally. J Oral Rehabil. 2001;28:1085-91.

Luther F. TMD and occlusion part II. Damned if we dont? Functional occlusal problems: TMD epidemiology in a wilder context. Br Dent J 2007;13:202(1):1-6.

Manfredini D, landi N, Tognini F, montagnani G, Brosco M. Psyhic and occlusal factorsin bruxism. Aust Dent J 2004a;49:84-9.

Marbach J, raphael G. Dohrendwend P, Lennon C. The validity of tooth grinding measures:etiology of pain dysfunction syndrome revisited. J Am Dent Assoc. 1990;120:327-333.

Michelotti A, Farella M, Gallo LM, Veltri A, Palla S, Martma R. Effect of occlusal interference on habitual activity of human masseter. J Dent Res. 2005;84:644-648.

Niemi PM, Alanen P, Kylmälä M, Jämsä T, Alanen P. Psychological factors and responses to artificial interferences in subjects with and without a history of temporomandibular disorder. Acta Odontol Scand 2006;64:300-5.

Ohayon MM, Li KK, Guilleminault C. Risk factors for sleep bruxism in the general population. Chest. 2001;119:53-61.

Rao A. 2008, Principles and Practice of Pedodontics, 2nd edition, Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd, New Delhi, hal. 148.

Rosenthal, Larry, 2007, Successful Management of Bruxism, diunduh tanggal 10 oktober 2014 dari http://www.tridentlab.com/pdfs/2007_Spring_Perspectives2.pdf

Singh G. 2007. Textbook of Orthodontics. 2nd ed. Jaypee Brothers Medical Puliblisher (P) Ltd.: India. p. 581-2.

Singh S. 2009. Deleterious Effects Of Oral Habits. Indian Journal of Dental Sciences. 1(2): 15- 20

The Academy of Prosthodontics, “The glossary of prosthodontics terms 8th edition,” Journal of Prosthetic Dentistry, vol. 94, no. 1, pp. 10–29, 2005.

The Glossary of Prosthodontic Terms. J Prosthet Dent. 2005;94:10-92.



Apa Itu Bruxism?



Kamis, 05 Juni 2014

Etiologi Maloklusi Dalam Ortodontik Kedokteran Gigi

Etiologi Maloklusi

Etiologi Maloklusi Dalam Ortodontik Kedokteran Gigi

Etiologi Maloklusi Dalam Ortodontik Kedokteran Gigi - Sobat blogger, kali ini saya akan membahas mengenai etiologi maloklusi dalam ortodontik, simak penjabarannya sebagai berikut.

a. Pendahuluan
Kebanyakan dari maloklusi yang memerlukan perawatan ortodonsia disebabkan oleh karena dua kemungkinan    :
1. Perbedaan antara ukuran gigi-gigi dan ukuran rahang yang menampung gigi tersebut.
2. Pola tulang muka yang tidak selaras.

Untuk mempermudah mengetahui etiologi dari maloklusi dibuat klasifikasi dari penyebab kelainan maloklusi tersebut. Terdapat dua pembagian pokok klasifikasi maloklusi          :
1. Faktor Ekstrinsik atau disebut faktor sistemik atau faktor umum
2. Faktor Intrinsik atau faktor lokal

b. Penyajian
1. Faktor Ekstrinsik
a. Keturunan (hereditair)
b. Kelainan bawaan (kongenital) misal : sumbing, tortikollis, kleidokranial diostosis, cerebral plasi, sifilis dan sebagainya.
c. Pengaruh lingkungan
· Prenatal, misalnya : trauma, diet maternal, metabolisme maternal dan sebagainya.
· Postnatal, misalnya : luka kelahiran, cerebal palsi, luka TMJ dan sebagainya.
d.  Predisposisi ganguan metabolisme dan penyakit
· Gangguan keseimbangan endokrin
· Gangguan metabolisme
· Penyakit infeksi
e. Kekurangan nutrisi atau gisi
f. Kebiasaan jelek (bad habit) dan kelainan atau penyimpangan fungsi.
· Cara menetek yang salah
· Mengigit jari atau ibu jari
· Menekan atau mengigit lidah
· Mengigit bibir atau kuku
· Cara penelanan yang salah
· Kelainan bicara
· Gangguan pernapasan (bernafas melalui mulut dan sebagainya)
· Pembesaran tonsil dan adenoid
· Psikkogeniktik dan bruksisem
g. Posture tubuh
h. Trauma dan kecelakaan

2. Faktor Intrinsik :
a. Kelainan jumlah gigi
b. Kelainan ukuran gigi
c. Kelainan bentuk
d. Kelainan frenulum labii
e. Prematur los
f. Prolong retensi
g. Kelambatan tumbuh gigi tetap
h. Kelainan jalannya erupsi gigi
i. Ankilosis
j. Karies gigi
k. Restorasi gigi yang tidak baik

 FAKTOR EKSTRINSIK
a. Faktor keturunan atau genetik
Faktor keturunan atau genetik adalah sifat genetik yang diturunkan  dari orang tuanya atau generasi sebelumnya. Sebagai contoh adalah ciri-ciri khusus suatu ras atau bangsa misalnya bentuk kepala atau profil muka sangat dipengaruhi oleh ras atau suku induk dari individu tersebut yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Bangsa yang merupakan prcampuran dari bermacam-macam ras atau suku akan dijumpai banyak maloklusi

b. Kelainan bawaan
Kelainan bawaan kebanyakan sangat erat hubungannya dengan faktor keturunan misalnya sumbing atau cleft : bibir sumbing atau hare lip, celah langit-langit (cleft palate).
·  Tortikolis : adanya kelainan dari otot-otot daerah leher sehingga tidak dapat tegak mengkibatkan asimetri muka.
·  Kleidokranial disostosis adalah tidak adanya tulang klavikula baik sebagian atau seluruhnya, unlateral atau bilateral, keadaan ini diikuti dengan terlambatnya penutupan sutura kepala, rahang atas retrusi dan rahang bawah protrusi.
·  Serebral palsi adalah adanya kelumpuhan atau gangguan koordinasi otot yang disebabkan karena luka didalam kepala yang pada umumnya sebagai akibat kecelakaan pada waktu kelahiran. Adanya gangguan fungsi pada otot-otot pengunyahan, penelanan, pernafasan dan bicara akan mengakibatkan oklusi gigi tidak normal.
·  Sifilis : akibat penyakit sifilis yang diderita orang tua akan menyebabkan terjadinya kelainan bentuk dan malposisi gigi dari bayi yang dilahirkan

c. Gangguan keseimbangan endokrine
Misal : gangguan parathyroid, adanya hipothiroid akan menyebabkan kritinisme dan resorpsi yang tidak normal sehingga menyebabkan erupsi lambat dari gigi tetap.

d. Kekurangan nutrisi dan penyakit
Misal : Rickets (kekurangan vitamin D), Scorbut (kekurangan vitamin C), beri-beri (kekurang vitamin B1) mengakibatkan maloklusi yang hebat.

Ciri-ciri faktor oklusi yang diturunkan (herediter)
1. Kedudukan dan penyesuaian antara otot-otot perioral dengan  bentuk dan ukuran lidah mempengaruhi keseimbangan oklusi (oklusi normal). Adanya penyesuaian antara bentuk muka, bentuk dan ukuran rahang dan lidah.
2. Sifat-sifat mukosa, ukuran, bentuk lidah dan frenulum.
Sifat mukosa : keras, lunak, kencang atau lembek mempengaruhi erupsi gigi.
Frenulum labii dapat mengakibatkan celah  gigi dan mempengaruhi kedudukan bibir.
Frenulum buccinator mengakibatkan rotasi gigi.
3. Ukuran gigi-gigi dan lebar serta penjang lengkung rahang dapat mengakibatkan gigi berjejal atau bercelah. Misalnya makrodontia, mikrodomtia. Lebar dan panjang lengkung rahang, penyesuaian antara rahang atas dan rahang bawah mengakibatkan terjadinya mandibuler retrusi atau prognatism.


FAKTOR INTRINSIK ATAU LOKAL
a. Kelainan jumlah gigi
1. Super numerary gigi (gigi kelebihan)
Lebih banyak terjadi pada rahang atas, kedudukan dekat midline (garis mediana) sebelah palatival gigi seri rahang atas disebut mesiodens. Bentuknya biasanya konus kadang-kadang bersatu (fused) dengan gigi pertama kanan atau kiri, jumlahnya pada umumnya sebuah tapi kadang-kadang sepasang. Gigi supernumery kadang-kadang tidak tumbuh (terpendam atau impected) sehingga menghalangi tumbuhnya gigi tetap didekatnya atau terjadi kesalahan letak (malposisi). Oleh karena itu pada penderita yang mengalami kelambatan atau kelainan tumbuh dari gigi seri rahang atas perlu dilakukan Ro photo.
2. Agenese dapat terjadi  bilateral atau unilateral atau kadang-kadang unilateral dengan partial agenese pada sisi yang lain
Lebih banyak terjadi dari pada gigi supernumerary. Dapat terjadi pada rahang atas maupun rahang bawah tetapi lebih sering pada rahang bawah. Urutan kemungkinan terjadi kekurangan  gigi adalah sebagai berikut :
Gigi seri II rahang atas ( I2 )
- Gigi geraham kecil II rahang bawah ( P2 )
- Gigi geraham III rahang atas dan rahang bawah
- Gigi geraham kecil II ( P2 ) rahang bawah
- Pada kelainan jumlah gigi kadang diikuti dengan adanya kelainan bentuk atau ukuran gigi. Misalnya bentuk pasak dari gigi seri II (peg shaps tooth).

b.   Kelainan ukuran gigi
Salah satu penyebab utama terjadinya malposisi adalah gigi sendiri yaitu ukuran gigi tidak sesuai dengan ukuran rahang, ukuran gigi lebih lebar atau sempit dibandingkan dengan lebara lengkung rahang  sehingga meyebabkan crowded atau spasing.

c.   Kelainan bentuk gigi
Kelainan bentuk gigi yang banyak dijumpai adalah adanya peg teeth ( bentuk pasak) atau gigi bersatu (fused). Juga perubahan bentuk gigi akibat proses atrisi (karena fungsi) besar pengaruhnya terhadap terjadinya maloklusi, terutama pada gigi sulung (desidui).

d. Kelainan frenulum labii

e. Premature los
Fungsi gigi sulung (desidui) adalah : pengunyahan, bicara, estetis
Juga yang terutama adalah menyediakan ruang untuk gigi tetap, membantu mempertahankan tinggi oklusal gigi-gigi lawan (antagonis), membimbing erupsi gigi tetap dengan proses resopsi.
Akibat premature los fungsi tersebut akan terganggu atau hilang sehingga dapat mengkibatkan terjadinya malposisi atau maloklusi.

f. Kelambatan tumbuh gigi tetap (delayed eruption)
Dapat disebabkan karena adanya gigi supernumerary, sisa akar gigi sulung atau karena jaringan mucosa yang terlalu kuat atau keras sehingga perlu dilakukan eksisi. Kadang-kadang hilang terlalu awal (premature los) gigi sulung akan mempercepat erupsinya gigi tetap penggantinya, tetapi dapat pula menyebabkan terjadinya penulangan yang berlebihan sehingga perlu pembukaan pada waktu gigi permanen akan erupsi, sehingga gigi tetap penggantinya dapat dicegah.

g. Kelainan jalannya erupsi gigi
Merupakan akibat lebih lanjut dari gangguan lain. Misalnya adanya pola herediter dari gigi berjejal yang parah akibat tidak seimbangnya lebar dan panjang lengkung rahang dengan elemen gigi yaitu adanya : persistensi atau retensi, Supernumerary, pengerasan tulang, tekanan-tekanan mekanis : pencabutan, habit atau tekanan ortodonsi, faktor-faktor idiopatik (tidak diketahui)

h. Ankilosis
Ankilosis atau ankilosis sebagian  sering terjadi pada umur 6 – 12 tahun. Ankilosis terjadi oleh karena robeknya bagian dari membrana periodontal sehingga lapisan tulang  bersatu dengan laminadura dan cemen.
Ankilosis dapat juga disebabkan oleh karena gangguan endokrin atau penyakit-penyakit kongenital (misal : kleidokranial disostosis yang mempunyai predisposisi terjadi ankilosis,  kecelakaan atau trauma).

i. Karies gigi
Adanya karies terutama pada bagian aproksimal dapat mengakibatkan terjadinya pemendekan lengkung gigi sedang karies beroklusal mempengaruhi  vertikal dimensi. Adanya keries gigi pada gigi sulung mengakibatkan berkurangnya tekanan pengunyahan yang dilanjutkan ke tulang rahang, dapat mengakibatkan rangsangan pertumbuhan rahang berkurang sehingga pertumbuhan rahang kurang sempurna.

j. Restorasi gigi yang tidak baik
Terutama tumpatan aproksimal dapat menyebabkan gigi elongasi, sedangkan tumpatan oklusal dapat menyebabkan gigi ektrusi atau rotasi.

Nah, itulah penjelasan singkat tentang Etiologi Maloklusi Dalam Ortodontik Kedokteran Gigi, semoga dapat membantu.


Etiologi Maloklusi Dalam Ortodontik Kedokteran Gigi

Senin, 26 Mei 2014

Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya

Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya

Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya

Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya - Pada postingan kali ini saya akan menjelaskan tentang gigi goyah dan bagaimana cara mengatasi hal tersebut. Nah, mungkin anda bisa sampai ke blog saya ini karena anda sendiri sedang mengalami gigi goyah dan bingung dengan penyebabnya, padahal kondisi gigi anda saat in sehat dan tidak ada gigi yang berlubang. Baiklah, akan saya jelaskan bahwa gigi goyah itu disebabkan oleh kerusakan jaringan pendukung gigi ( jaringan periodontal ) yang diawali oleh penumpukan kalkulus atau karang gigi. Sebab lain gigi goyah adalah penyakit sitemik seperti penyakit kencing manis atau diabetes melitus.

Karang gigi dapat menyebabkan gigi goyah disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor mekanis dan faktor bakteri. Faktor mekanis yang saya makasud di sini adalah dengan adanya karang gigi di dalam sulkus gusi dapat menyebabkan trauma mekanis terhadap gusi, desakan yang diakibatkan dari karang gigi dapat menjadikan perlekatan gusi dan gigi menjadi tidak baik. Hal kedua adalah karena faktor bakteri yang terdapat di karang gigi. Karang gigi itu berasal dari plak, plak adalah lapisan tipis pada permukaan gigi yang terbentuk terus menerus dan di dalamnya terdapat bakteri. Apabila tidak dibersihkan secara tuntas plak lama kelamaan akan mengalami pengerasan, itulah yang disebut karang gigi. Lapisan kasar pada karang gigi juga dapat menjadikan karang gigi sebagai tempat yang ideal untuk perkembangan bakteri. Produk - produk yang dihasilkan bakteri inilah yang kemudian dapat merusak jaringan pendukung gigi. Ketika jaringan pendukung gigi rusak maka lama kelamaan jaringan tidak dapat "mencengkeram" gigi dengan baik dan menimbulkan kegoyahan gigi.

Untuk pencegahan gigi goyah sebaiknya kita membersihkan gigi secara berkala terutama saat sebelum tidur. Kemudian lakukan scaling ( pembersihan karang gigi ) secara teratur ke dokter gigi. Nah, apabila anda sudah terlanjur mengalami gigi goyah ada baiknya anda konsultasi ke dokter gigi spesialis periodontal. Untuk wilayah yogyakarta dapat saya rekomendasikan ke Dr. drg. Ahmad Syaify, Spp. Perio (K). Beliau adalah ahli bedah perio dan kecantikan terkemuka di yogyakarta. Anda bisa melihat profil beliau di Klinik Gigi Jogja / Praktek Dokter Gigi Jogja.

Itulah penjelasan singkat dari saya tentang Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya. Semoga postingan ini dapat bermanfaat bagi anda.


Gigi Goyah dan Cara Mengatasinya

Copyright @ 2013 Dokter Gigi. Designed by Templateism | Love for The Globe Press